Hidup itu kompleks. semuanya ada. Pun dalam kehidupan bersosialisasi dalam pesantren. Semua orang yang ada disana lebih-lebih remaja pra dewasa atau anak-anak menjelang remaja pasti memiliki energi dan emosianalnya masing-masing.
Aku, yang saat ini dipasrahi menjadi kepala di asrama, apakah harus memvalidasi semua emosi mereka?
mohon jawab, aku butuh jawaban.
Setiap hari ada saja hal baru yang mesti aku pelajari. Dimulai dari tingkah santri yang unik-unik. Santri usia SMP-an yang sedang semangat-semangatnya mengeluarkan energi mereka. Andai Tuhan, mereka mengeluarkan kepada hal-hal yang positif, pasti hati ini tidak risau.
Belum lagi, setingkat SMA yang sedang era buterfly mereka pacaran hingga ketemuan dengan santri putra. Astagfirullah
Dan, hal paling memberatkan adalah menyamakan presepsi dan satu jalan, satu misi mencapai maksud tujuan yang utuh. Tidak berlubang, apalagi saling menggiigit di antara pengurus pesantren.
Semuanya asik, hanya yang perlu diluruskan mungkin beberapa hal. Semuanya mau berproses menjadi lebih baik, masalahnya standar baik diantara semua orang itu berbeda. Ada yang menganggap biru itu lebih baik di letakkan di bagian depan rumah, beberapa kelompok yang lain menganggap itu tabu.
Ah capek
Hidup dipesantrern itu unik, terletak pada beberapa aturan yang perlu kita jalani meskipun bukan aturan syariat.
Hal kecil sumpama sandal, sangat kita perhatikan, apalagi shalatnya
Namun dari sistem ini, perlu adanya pembaharuan. Mana hal syariat yang harus diutamakan daripada hal receh.
Mana permasalahan syariat yang perlu di selesaikan lebih utama daripada sekedar membahas hal kecil seperti sandal.
Itu baik, sangat baik malah sampai membahas sandal, hanya perlu diluruskan lagi niatnya. Agar apa, semua tenaga dan pikiran tidak terfokuskan pada hal yang dalam ranah agama tidak penting.
Bukan berarti aku mengartikan membahasa sandal itu tidak penting, itu penting hanya saja bila semua tenaga dan fikiran sudah terfokus pada sandal, maka pengontrolan shalat santri bisa jadi sedikit menurun
Dan juga, hidup dipesantren jauh dari orang tua, mengharuskan semua santrinya tahan banting. Bagi kami para pengurus era tahan banting kami harus lebih ekstra daripada santri pada umumnya. Bila masalah mereka terletak pada kegiatan pembelajarannya, maka masalahku terletak pada pendidikanku sendiri dan bagaimana mengurus santri-santri itu. Melelahkan tapi itu adalah aku artikan sebuah tantangan
Belum lagi, kadang tekanan juga datang dari atasan dengan segala program kerja yang harus terealisasi, menjadikan aku serba salah, menekan ke bawah salah, mengikuti alurpun kadang salah.
Bisa bantu beri solusi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar