Sekelumit
chat yang kamu kirim akhirnya membeku di jejaring sosial mediaku. Sengaja aku
biarkan itu terjadi, agar dirimu tahu bahwa aku belum siap untuk menerima ini.
Ah, terdengar erotis yaaa. Baik akan aku sederhanakan.
Kebanyakan
lelaki memang begitu. Kami para kaum hawa, keseringan hati-hati melabuhkan
hatinya pada sebagian kaummu, kaum adam. Dengan alasan yang mungkin oleh
kebanyakan dari kalian tidak percaya atau malah menganggap alasan kami tidak
bermutu atau bahkan dilabeli alasan yang tidak biasa dijadikan alasan.
Oh,
bukan begitu, argumen sebagian dari kaumku ketika menolak hati yang akan singgah
mungkin beragam. Sebagian ada yang sudah melabuhkan hatinya pada dermaga orang
lain, sehingga mereka sulit untuk menerima. Ada yang memilih untuk “menutup”
diri. Menjauhkan dirinya dari hiruk pikuk kehidupan bersama laki-laki yang
masih belum halal bersamanya atau mungkin ingin lebih fokus dulu pada
pendidikannya. Iya, kami pun tahu.
Cinta
tidak bisa dipaksakan. Oleh siapapun, apapun, dengan cara apapun,dan dengan
pertimbangan bagaimanapun. Sejatinya cinta itu murni oleh 2 orang yang akan menjalani
kehidupan kedepannya. Mungkin, jika ada yang menolak sebagian dari kalian, kaum
cowok. Percayalah, mereka pasti mempunyai pertimbangan masng-masing yang sulit
di katakan pada pria.
“Nikahnya bisa tahun
depan kok -.-”.
Ah,
iya benar saja, pernikahan bisa dilakukan tahun depan, bulan depan atau pun
besok. Namun yang pasti. Hati kami tidak bisa sebegitu gampangnya menerima
kehadiran para lelaki. Apa lagi mereka yang bakal menjadi nahkoda rumah tangga.
Aku lupa, bahwa hewanpun membutuhkan pasangan untuk terus melanjutkan generasi.
Tumbuhan juga butuh perkawinan untuk menghasilkan putik yang baru.
Apa
lagi manusia? Manusia, makhluk berakal yang sengaja Tuhan ciptakan sebagai
kholifah dari, dan sebelumnya dengan melewati jalur pernikahan yang sakral.
Sebelum fase ini, masa-masa kesensitifan wanita akan diuji. Bagi yang sedang
kuliah, tugas-tugas kampus menumpuk yang harus rela di bagi dengan jam tidur. Lalu
besoknya, kegiatan membosankan demi melebarkan logika akan terus berlanjut.
Hingga mentari terbenam di gantikan
bulan menggantung di atap bumi.
Mm,
lupa. Berbicara mengenai pasangan di kehidupan nanti. Kami, para wanita
mempunyai prespektif sendiri. Kamipun tahu, bahwa jodoh ada di ‘tangan’ Tuhan.
Siapa tak tahu itu?
Saat kalian berkata
“Kami, kaum lelaki berhak untuk
memilih wanita”
Maka jawaban yang pantas;
"Kaum wanita, juga berhak atas
penolakan'
Jika
kaum kalian sebut proses PDKT dengan wanita adalah usaha dan ikhtiar, maka kami
akan menyebutnya waktu yang terbuang sia-sia. Because, Hidup kita adalah kita yang tentukan.
![]() |
| Berdo'a adalah jalan terbaik meminta pada Tuhan. |
Dan,
saat wanita yang kalian sukai berkata masih
belum siap. Itulah, saat mereka mentafakkuri hidupnya agar lebih matang.
Mempersiapkan kehidupan yang lebih mapan di masa-masa mendatang. Mereka akan teguh dengan mindset
Pasal 1:
Jikalau
jodoh benar di tangan Tuhan. Bersama siapapun kami siap.
Pasal
2:
Jika
laki-laki yang dekat dengan kita saat ini tidak di takdirkan untuk menemani
hidup, maka konsekuensi kembali ke pasal 1. Kami akan selalu menyambut predestinasi Tuhan.
Pertanyaannya, Apakah kalian para kaum lelaki juga
memilik pikiran yang sama dengan kami?
Kami butuh jawabanmu, Kami, akan siap menunggu dikolom komentar.
